Dia tidak pernah berubah, akupun tidak. Tetapi aku tetap perlu membetulkan hati.
Tahun 2010. Pertemuan pertama kita waktu itu, membekas dengan jelas dalam ingatanku.
Kamu yang kala itu sedang asik bermain keyboard dan aku yang baru datang.
Terkesima tampaknya, aku tertegun memandangmu yang adalah anak baru dalam perkumpulan ini.
Cinta pandangan pertama? Bisa jadi. Begitu banyak laki-laki yang bisa bermain musik tapi mengapa pandangan ini hanya tertuju padamu?
Kata orang, ini cinta monyet. Sebab waktu itu aku masih kelas 2 SMP dan kamu yang berada di bawah ku dua tahun tapi sekolah lebih cepat, sehingga menjadi adik kelas yang duduk di bangku kelas 1 SMP.
Kembali lagi diingatkan orang, bahwa ini cinta monyet. Hahaha, aku hanya tertawa, karena aku tidak tahu kalau cinta monyet ini akan menjadi cinta bertepuk sebelah tangan selama 10 tahun.
Aku paling suka melihat tawamu, kehadiranmu di perkumpulan ini makin membuatku bersemangat tiap menyambut hari Sabtu. Jelas, ketika kamu sedang tidak bisa datang karena satu dan lain hal, membuatku sedih dan mencari-cari dirimu.
Di tahun ketiga, cintaku semakin nampak sehingga orang-orang jadi tahu kalau aku menyukaimu. Sayang, perasaanmu tidak sama denganku. Entah dari mana salahnya, padahal aku tidak pernah menyampaikan. Apa karena kesalahpahaman waktu itu? Ah, aku memaki-maki temanku yang mengirim SMS padamu dengan kata-kata kasar tetapi memakai nomorku. Karena semenjak itu, kamu makin menjauh. Perasaanku tidak karuan, tak henti-hentinya aku menyalahkan temanku, menyalahkan diriku juga yang memberikan HP ku padanya.
Tahun 2015. Sempat aku menjalin kasih dengan orang lain, ingin mencoba pacaran setelah lulus sekolah, dimana aku tidak diizinkan untuk berpacaran karena takut menganggu belajarku. Tapi sayangnya, hubungan itu kandas. Setelahnya, perasaanku kembali mengingat bahwa yang kucintai masih dirimu.
Kini, dirimu pergi. Ke kota orang untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Sedang disini aku, dengan perasaan yang sama, tapi belum memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang sama denganmu.
Rasanya lama sekali waktu berjalan, hingga 2019 awal aku memutuskan untuk berhenti, berhenti berharap, berhenti meminta dan berhenti untuk mencintaimu. Aku umumkan pada teman-temanku, kalau aku sudah tidak berharap padamu.
Tapi kau tahu? perasaan ini, semakin dipendam malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya 2020 ku putuskan untuk mengikuti social mediamu yang selama ini sudah ku tahu, tapi malu untuk mengajak berteman. Entah keberanian darimana, setelah diterima, akupun mengajakmu bicara via chat. Malu tapi tetap rasa bahagia lebih besar. Rasanya semesta mendukungku. Hanya saja, pembicaraan kita tidak pernah berlanjut. Aku disini dan kau masih di kota orang, yang berubah hanyalah statusmu sekarang adalah seorang pekerja.
Teman-temanku tidak perlu tahu, bila ternyata perasaanku padamu masih sama. Soalnya mereka ingin sekali aku move on, "sudah terlalu lama diriku mencintaimu" kata mereka. Jadi, aku lebih memilih diam. Diam-diam masih mencintai, sehingga sakitpun aku diam-diam saja karena tidak ada yang perlu tahu selain diriku dan Tuhan.
Sudah 2024 ternyata, sebulan lalu aku mengucapkan selamat ulang tahun bagimu. Mendoakan dirimu agar sehat selalu dimanapun kau berada. Desember kemarin ternyata kamu ke sini, ke Jakarta. Jika aku tahu, aku pasti mengajak bertemu walaupun dengan memasang muka tembok.
Benar kata Dilan, rindu itu berat. Sayang, belum ada obat untuk menghapus perasaan. Bila ada, tolong beritahukan aku, wahai pembacaku yang baik hati.
Salam hangat dariku,
Novia
Komentar
Posting Komentar